|
<
Kembali
:: Info FPPM
Perlu Pelatihan Khusus
Membahas Jender
Idealnya,
sebuah pelatihan berujung pada peningkatan pemahaman peserta
terhadap materi yang diberikan. Adalah wajar jika peserta
kemudian merasa kemampuannya bertambah selepas mengikuti
pelatihan tersebut, namun bagaimana jika yang terasa adalah
sebaliknya? Hal itu seperti yang terjadi dalam Pelatihan ToT
PBET Tahap 1 dan 2 yang diselenggarakan Forum Pengembangan
Partisipasi Masyarakat bekerja sama dengan National Democratic
Intitute di Bandung, 1-7 Oktober 2006..
Pada sessi
awal, fasilitator mempersiapkan tabel isian untuk mengukur
kemampuan para peserta. Dalam tabel itu terdapat 14 indikator
kemampuan yang harus diisi peserta.
Mereka diminta menempelkan stiker
untuk menandai skor masing-masing pada setiap indikator yang
tertera. Rentang
skor yang ditetapkan adalah 1 hingga 10.
Pada sessi penutupan, para peserta
diminta untuk mengisi kembali tabel yang sama. Fasilitator
berharap, melalui dua tabel tersebut, dapat terlihat
perkembangan kemampuan para peserta setelah mengikuti pelatihan.
Setelah dibandingkan, ternyata secara keseluruhan menunjukkan
perkembangan yang positif.
Misalnya saja dalam hal mengawal
proses perencanaan penganggaran. Semula, sebagian besar peserta
menilai kemampuannya dalam hal ini hanya layak diapresiasi
dengan skor di bawah 5. Hanya 5 orang saja yang yang merasa
dirinya layak mendapat skor di atas 5. Setelah pelatihan,
kondisinya berbalik, hanya 4 orang yang merasa nilai masih
berkutat di angka 5 ke bawah.
Meski secara umum menunjukkan trend
peningkatan, ada indikator yang menunjukkan kekecualian. Dari
keempatbelas indikator tersebut, kemampuan peserta dalam
melakukan analisis anggaran peka jender menunjukkan
kecenderungan menurun. Pada sessi awal, terdapat 3 orang yang
merasa kemampuannya hanya patut mendapat skor 1. Namun
dipenghujung kegiatan, ternyata ada 7 orang yang merasa
kemampuannya cukup dinilai dengan skor 1.
Program Officer Pengembangan
Metodologi dan Peningkatan Kapasitas PBET, Rianingsih Djohani
mengatakan, salah satu penyebab terjadinya fenomena tersebut
karena belum ada kesepakatan tentang peka jender. Untuk
menciptakan kesepakatan tersebut diperlukan waktu yang cukup.
Satu sessi pertemuan tidaklah cukup untuk membahas isu jender
tersebut.
“Satu sessi tidaklah cukup.
Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan advokasi, jika
kesepakatan tentang peka jender saja tidak didapat. Kondisi
seperti itu hanya menimbulkan kontraproduktif,” ujarnya.
Ria menyarankan agar sessi tersebut
dihapus dalam modul yang sedang dibuat untuk kepentingan ToT
PBET. Sebagai gantinya, perlu dirancang sebuah modul tersendiri
yang membahas tema peka jender. Karena jika kesepakatan tentang
peka jender belum diperoleh, advokasi tentang peka jender ini
dikhawatirkan terkendala.
Analisis peka jender merupakan isu
yang paling diperdebatkan selama ToT PBET Tahap 1 berlangsung.
Muncul pertanyaan mendasar tentang keberadaan anggaran peka
jender. Pertanyaan-pertanyaan itu tentu saja membutuhkan jawaban
yang mendasar. Karena itu, sebuah pembahasan khusus tentang peka
jender, seperti dikatakan Ria, bisa menjadi sebuah solusi.
Karena jika pertanyaan itu tidak terjawab, maka advokasi peka
jender hanya akan menjadi wacana di atas meja dan entah kapan
menyentuh bumi.
|